Meniti Jejak Besi dan Keluhuran: Membaca Jiwa Maros dalam Bilah Pusaka

POSTIMUR MAROS – Di balik dinginnya baja yang tersimpan di balik kaca etalase Museum Daerah Kabupaten Maros, tersimpan denyut nadi sejarah yang panjang. Hari Rabu, 17 Juni 2026, menjadi momentum penting ketika Museum Daerah Kabupaten Maros membuka tabir yang selama ini menyelimuti koleksi senjata pusakanya. Melalui Seminar Hasil Kajian Koleksi Senjata Pusaka Tahun 2026 yang dihelat di Baruga A, senjata-senjata tradisional seperti badik, badik tindako, dan keris tidak lagi sekadar dipandang sebagai alat perang, melainkan sebagai naskah hidup yang memuat identitas masyarakat Maros.

Kegiatan yang didukung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kebudayaan ini bukan sekadar seremoni administratif. Ini adalah upaya “memanusiakan” benda mati. Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, dalam sambutannya menegaskan bahwa esensi dari kajian ini jauh melampaui pendokumentasian fisik.

“Kajian ini adalah penggalian makna dan filosofi. Senjata bukan hanya bicara tentang ketajaman, tapi tentang jati diri. Inilah identitas kita yang harus dipahami oleh generasi penerus sebagai simbol kebesaran Maros,” ujar Muetazim.

Sejak April 2026, tim ahli yang terdiri dari akademisi, arkeolog, filolog, hingga fotografer telah terjun ke lapangan. Menyusuri jejak sejarah di Kecamatan Bantimurung, Moncongloe, Bontoa, hingga Tompobulu, delapan orang pakar ini membedah 181 koleksi yang dimiliki museum, meski fokus utama tahun ini dikerucutkan pada senjata tradisional.

Ada yang unik dalam seminar tersebut. Suasana forum yang formal terasa lebih membumi karena penggunaan bahasa daerah yang bersanding harmonis dengan bahasa Indonesia. Muetazim Mansyur memberikan apresiasi khusus atas inisiatif ini. Menurutnya, menghormati bahasa lokal dalam forum resmi adalah cerminan dari martabat budaya itu sendiri—sebuah praktik yang ia harapkan terus berlanjut di berbagai agenda daerah lainnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Maros, Andi Muhammad Kurniawan, mengungkapkan bahwa hasil dari riset mendalam ini tidak akan berhenti di ruang seminar. Seluruh temuan, mulai dari sejarah penciptaan, teknik pembuatan, hingga filosofi yang melekat pada badik dan keris tersebut, akan dibukukan. Buku ini nantinya diharapkan menjadi kompas bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak kehilangan arah dalam mengenali akar budayanya sendiri.

Saat ini, badik dan keris di Museum Daerah Kabupaten Maros tidak lagi sekadar berdiam diri. Mereka kini memiliki “suara”. Melalui kajian ini, bilah-bilah besi itu kini bertutur tentang keberanian, etika, dan filosofi hidup masyarakat Maros yang telah ditempa oleh waktu. Ke depan, senjata-senjata ini diharapkan tidak hanya menjadi koleksi museum, tetapi menjadi simbol kebanggaan yang mampu bercerita kepada dunia tentang siapa masyarakat Maros sebenarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *