Drama Di Pakalu, Kelurahan Bontoa Fc: We Are Champions Bantimurung Series 2026

POSTIMUR MAROS – Lapangan Sepak Bola Pakalu’ menjadi saksi bisu atas sebuah mahakarya: Final Bantimurung Series 2026.,Sabtu (18/07/2026)

Di bawah pengawasan tegas wasit Rudi Haning, dua raksasa beradu argumen di atas rumput hijau. Kelurahan Bontoa FC dengan seragam hijau kebanggaannya, menantang hegemoni Desa Minasa Baji yang tampil elegan dengan balutan biru.

Adu Strategi yang Meledak Laga baru berumur sembilan menit ketika Furqan, sang predator dari Minasa Baji, membungkam pendukung Bontoa. Sepakannya menghujam deras, membuat tribun biru meledak dalam euforia: 1-0. Namun, mental juara Bontoa tak runtuh. Hanya butuh lima menit bagi mereka untuk membalas. Furqan—nama yang kini tercatat dalam sejarah—menyeimbangkan kedudukan menjadi 1-1. Skor yang bertahan hingga turun minum, menyisakan ketegangan yang menggantung di udara.

Babak Kedua: Roller Coaster Emosi Petaka bagi Minasa Baji datang saat matahari mulai condong. Menit ke-43, Furqan kembali mencatatkan namanya di papan skor. Bontoa berbalik unggul 2-1. Delapan menit berselang, Alfian menambah penderitaan Minasa Baji menjadi 3-1. Stadion Pakalu’ bergemuruh, pendukung Bontoa mulai menyiapkan nyanyian juara.

Namun, sepak bola adalah olahraga yang kejam bagi mereka yang lengah dan penuh mukjizat bagi mereka yang pantang menyerah.

Minasa Baji yang terpojok justru bermain seperti kesetanan. Erwinsyah mencetak gol pada menit ke-72, memangkas jarak menjadi 3-2. Waktu pun menipis, harapan Bontoa hampir mencapai garis finis. Namun, di detik-detik paling sakral—menit 80+6—sebuah kemelut di depan gawang Bontoa berakhir dengan sentuhan magis pemain pengganti, Riri. Gol! Stadion Pakalu’ pecah. Skor 3-3 menjadi penutup babak normal yang akan dikenang selama bertahun-tahun.

Titik Putih dan Air Mata Juara Adu penalti menjadi babak paling mencekam. Tak ada suara, hanya detak jantung ribuan penonton yang seirama. Dalam drama adu penalti, Kelurahan Bontoa akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 7-6.

Saat peluit akhir dibunyikan, tangis pecah di tengah lapangan. Bontoa berpesta, sementara pemain Minasa Baji terduduk dalam kesunyian yang pilu. Meski kalah, mereka meninggalkan lapangan dengan kepala tegak.

Saksi Bisu Sang Pemenang Kehadiran Wakil Bupati Maros, Andi Muetazim Mansyur, ST, bersama jajaran Forkopimcam dan tokoh-tokoh penting Sulawesi Selatan lainnya, menambah kehormatan dalam laga ini. Ketua Panitia, Zam Zam Prayoga, menutup sore itu dengan janji manis: “Ini belum berakhir. Tahun depan, kita akan kembali dengan New Bantimurung Cup II yang jauh lebih besar.”

Catatan Akhir Turnamen:

Juara I: Kelurahan Bontoa FC (Rp20.000.000)
Juara II: Desa Minasa Baji (Rp15.000.000)
Juara III Bersama: Desa Moncongloe & Kelurahan Baju Bodoa (Masing-masing Rp9.000.000)
Top Skor: Asir Asiz (Desa Mangeloreng)
Pemain Terbaik: Imran Mahmud (Desa Minasa Baji)

Bantimurung Series 2026 bukan sekadar turnamen. Ia adalah bukti bahwa di atas lapangan hijau, keajaiban selalu menemukan jalannya untuk terjadi, hingga tetes peluh terakhir jatuh ke tanah Pakalu’.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *