Balai Besar Veteriner Maros Tingkatkan Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban Menjelang Iduladha 2026

POSTIMUR MAROS – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, suasana pasar-pasar tradisional di Sulawesi Selatan dipenuhi hiruk‑pikuk para pedagang dan pembeli hewan kurban. Di baliknya, sebuah jaringan kerja yang hampir tak terlihat mulai berdenyut kencang: Balai Besar Veteriner (BBV) Maros. Dengan personel yang diperbanyak, peralatan laboratorium yang ditingkatkan, serta prosedur pemeriksaan yang lebih ketat, BBV Maros bertekad memastikan setiap ekor sapi, kerbau, atau kambing yang akan dipersembahkan dalam ibadah kurban tiba dalam kondisi “sehat, bebas penyakit”.

“Kami tidak hanya menunggu penyakit muncul. Kami menyiapkan semua sumber daya sejak awal, agar setiap hewan yang menyeberang pintu gerbang pasar sudah terjamin kebersihannya,” kata Dr. Agustia, Kepala BBV Maros, saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa, 28 April 2026.

1. Mengapa Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban Begitu Penting?

Iduladha—yang dikenal pula sebagai Hari Raya Kurban—menandai puncak perdagangan hewan ternak di Indonesia. Data dari Kementerian Pertanian selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa volume transaksi hewan kurban meningkat rata‑rata 12 % per tahun, dengan Sulawesi Selatan menyumbang sekitar 8 % dari total nasional. Lonjakan ini tidak lepas dari dua risiko utama:

Penyebaran Penyakit Menular – Penyakit seperti Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi, peste bovis pada kerbau, dan Brucellosis pada kambing dapat meluas dengan cepat bila hewan yang terinfeksi masuk ke pasar maupun distribusi lintas daerah.
Keamanan Konsumen – Daging kurban yang terkontaminasi dapat menimbulkan ancaman kesehatan bagi jutaan konsumen yang mengkonsumsi daging tersebut selama hari raya.

“Jika satu hewan yang terinfeksi menyebar ke rantai pasokan, dampaknya bisa meluas ke puluhan ribu ekor lain,” jelas Dr. Agustia. “Itulah mengapa kami tidak sekadar mengecek ‘sembilan dari sepuluh’ hewan, melainkan semua yang melintasi titik pemeriksaan.”

2. Memperkuat Barisan: Personel dan Peralatan

Selang dua tahun terakhir, BBV Maros telah menambah 32 teknisi lapangan yang dilengkapi alat PCR portable, mikroskop digital, serta kit rapid test khusus untuk patogen patogen utama. Laboratorium di gedung utama Balai telah menerima upgrade sistem biosafety level 2 (BSL‑2), memungkinkan peneliti mengolah sampel dalam kondisi yang lebih aman dan akurat.

“Sebelumnya kami mengandalkan satu mobil laboratorium. Sekarang, kami mempunyai tiga van lab yang siap bergerak ke pasar‑pasar tradisional, pelabuhan, serta pos pemeriksaan jalan,” ungkap Dr. Agustia dengan senyum lebar.

Selain itu, BBV Maros berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin dalam pelatihan mikro‑diagnostik, serta menjalin jaringan hubungan data dengan Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota se‑Sulawesi Selatan via aplikasi e‑VetCheck, yang memungkinkan peternak mengunggah hasil rapid test secara real‑time.

3. Angka di Lapangan: 18.481 Sampel Sudah Diuji

Hingga 28 April 2026, tim BBV Maros telah melakukan pengujian kesehatan pada 18.481 sampel hewan kurban—angka yang menandakan lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya (12.734 sampel pada 2024). Pengujian meliputi:

Jenis Hewan Jumlah Sampel Persentase Positif (Jika Ada)
Sapi 7.652 0,12 % (LSD)
Kerbau 4.123 0,08 % (Peste Bovis)
Kambing 6.706 0,05 % (Brucellosis)
Total 18.481 0,08 %

“Angka positifnya sangat rendah, namun kami tidak bisa berpuas diri. Setiap kasus, sekecil apapun, tetap harus ditindaklanjuti dengan karantina dan pemusnahan,” tegas Dr. Agustia.

Para peternak di daerah Kabupaten Maros, Luwu, dan Gowa, yang telah mengirimkan hewan mereka untuk pemeriksaan, menyampaikan rasa lega.

“Awalnya kami khawatir didenda atau hewan kami ditolak, tapi prosesnya cepat, hasilnya transparan. Ini memberi kepastian bagi kami saat menjual atau mengirim kurban ke kota,” kata Muhammad Riza, peternak sapi dari desa Bantimurung, Maros.

4. Keseimbangan Antara Kuantitas dan Kualitas

Meningkatnya permintaan pengujian—lebih dari ribuan pengajuan per minggu menjelang Iduladha—memaksa BBV Maros merancang jadwal rotasi tim lapangan. Setiap tim mengunjungi 8‑10 pasar per hari, dengan waktu rata‑rata 30 menit per hewan untuk pengambilan sampel darah, swab, dan pencatatan identitas.

Sementara itu, tim analis laboratorium menyiapkan slot khusus pada malam hari untuk memproses sampel-sampel kritis, memastikan laporan hasil dapat dikirim pada hari yang sama via aplikasi e‑VetCheck. Bagi peternak yang mengajukan ujian ekspres, BBV Maros menawarkan layanan “Fast‑Track” dengan biaya tambahan, yang memungkinkan hasil tersedia dalam 4‑6 jam.

5. Kondisi Penyakit di Sulawesi Selatan: Tantangan yang Terkendali

Meskipun wilayah Sulawesi Selatan pernah terdampak outbreak LSD pada 2020 dan brucellosis pada 2022, data terbaru menunjukkan penurunan signifikan. Menurut laporan bulanan Dinas Kesehatan Hewan, jumlah kasus menurun 78 % dibandingkan rata‑rata lima tahun terakhir.

“Pengendalian penyakit tidak hanya tergantung pada pengujian, tapi juga pada edukasi peternak tentang biosekuriti, vaksinasi tepat waktu, dan kebersihan kandang,” kata Dr. Agustia.

Sebagai langkah preventif, BBV Maros menggandeng Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat untuk mengadakan sesi workshop tentang pemberian vaksin antisipatif pada hewan ternak, serta distribusi protokol sanitasi yang meliputi pembersihan alat pemotong, penggunaan sarung tangan, dan penyemprotan disinfektan di area pasar.

6. Menatap Hari H: Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Dengan sisa waktu kurang dari dua minggu menjelang Iduladha, BBV Maros menyiapkan “Operation Eid‑Ready”, sebuah rangkaian aksi yang mencakup:

Pengecekan akhir pada 10 titik pos pemeriksaan strategis di jalur utama masuk Kota Makassar dan Palopo.
Mobilisasi tim respons cepat yang siap menanggapi potensi wabah dengan karantina darurat dan penyuluhan on‑site.
Pengiriman laporan harian ke Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan untuk monitoring real‑time.

“Kami berharap semua hewan kurban dapat sampai ke meja makan keluarga dalam keadaan sehat, tanpa menambah beban kesehatan masyarakat,” pungkas Dr. Agustia.

7. Suara Masyarakat: Harapan dan Kepercayaan

Di pasar Pasar Harian Maros, para pembeli menunggu giliran mereka sementara petugas BBV memeriksa hewan yang dipajang. Siti Nurhaliza, seorang ibu rumah tangga berusia 36 tahun, mengaku merasa tenang.

“Selama tahun‑tahunnya, kami selalu khawatir dengan penyakit yang bisa menular ke keluarga. Sekarang, melihat tim BBV berada di samping kami, rasanya lebih aman. Semoga semua berjalan lancar,” ujar Siti sambil memegang daftar hewan kurban yang telah lolos pemeriksaan.

Peternak muda Fauzi, 27 tahun, menambahkan bahwa “pengawasan yang ketat ini memperlihatkan profesionalisme pemerintah. Ini memberi kami motivasi untuk meningkatkan standar peternakan di desa kami.”

8. Penutup: Menguatkan Jaring Keamanan Kesehatan Hewan

Balai Besar Veteriner Maros, dengan tekad dan upaya kolaboratif, telah menegakkan jaring pengaman yang menghubungkan peternak, pedagang, konsumen, dan otoritas kesehatan. Pada tampilan pertama, pengawasan kesehatan hewan kurban tampak seperti tugas administratif; namun di balik deretan angka dan prosedur, terdapat harapan—harapan bahwa Iduladha 2026 akan berlangsung dengan damai, penuh rasa syukur, dan bebas ancaman penyakit.

Sebagai penutup, Dr. Agustia menegaskan satu kalimat yang menggarisbawahi seluruh upaya tersebut:

“Kesehatan hewan bukan hanya tentang daging yang kita santap, melainkan tentang melindungi ekosistem, mata pencaharian peternak, dan kesehatan publik. Kita semua berperan, dan hari ini, BBV Maros siap menjadi garda terdepan.”

Dengan segala persiapan yang telah dilakukan, masyarakat Maros dan sekitarnya dapat menanti hari Iduladha dengan keyakinan—bahwa di setiap sudut pasar, di setiap pangkalan transportasi, dan di setiap kandang, kesehatan hewan menjadi prioritas utama, menjamin kurban yang suci, layak, dan aman untuk seluruh umat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *