POSTIMUR JAKARTA – Dalam forum eksklusif Money Trees Vol. 1: Akar yang digelar HIPMI Jakarta Selatan, Datuk Shafie Shamsuddin menyampaikan pesan mendasar bagi pengusaha muda, pertumbuhan bisnis tidak pernah dimulai dari puncak, melainkan dari akar. Sebelum berbicara tentang ekspansi, kolaborasi besar, atau peluang bersama negara, pengusaha muda harus terlebih dahulu membangun fondasi yang kuat dalam dirinya: tekad, prinsip, disiplin, kepercayaan, dan keberanian membaca masalah sebagai peluang.,Kamis (02/07/2026).
Mengusung tema “Tumbuh Tanpa Takut: Pengusaha Muda dan Keberanian Berkolaborasi dengan Negara,” Money Trees Vol. 1 menghadirkan ruang percakapan yang berbeda dari seminar formal. Forum ini dirancang secara intimate, terbatas, dan terkurasi, mempertemukan pengusaha muda dengan narasumber kelas atas dalam suasana yang cair, personal, tetapi tetap berbobot. Tidak ada jarak panggung yang kaku. Yang hadir adalah percakapan jujur tentang pengalaman, perjuangan, prinsip hidup, dan cara membangun usaha secara lebih matang.
Dalam pandangan Datuk Shafie, pengusaha muda tidak boleh takut terhadap struggle. Justru dari struggle itulah daya tahan seorang pengusaha dibentuk. Perjalanan bisnis dan karier tidak selalu dimulai dari kondisi ideal. Banyak orang memulai dari keterbatasan, tekanan keluarga, kebutuhan untuk bertahan, dan ketiadaan modal. Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Ia adalah medan awal yang menguji apakah seseorang sungguh-sungguh memiliki tekad untuk tumbuh.
Namun, Datuk Shafie juga memberi peringatan penting yaitu kerja keras saja tidak cukup. Dalam dunia yang semakin kompetitif, semua orang bisa bekerja keras, semua orang bisa mengejar target, dan semua orang bisa mengklaim dirinya ambisius. Yang membedakan seorang pemimpin bukan sekadar seberapa keras ia bekerja, tetapi seberapa besar ia mampu membangun kepercayaan. Trust menjadi mata uang penting dalam kepemimpinan. Tanpa kepercayaan, performa hanya menjadi angka. Dengan kepercayaan, performa berubah menjadi reputasi.
Salah satu gagasan kuat dari Datuk Shafie adalah pentingnya pengusaha muda membangun prinsip pribadi. Dalam kepemimpinan, prinsip bukan aksesori moral, melainkan kompas pengambilan keputusan. Di tengah lingkungan bisnis yang penuh tekanan, godaan, dan perbedaan budaya, prinsip menjadi batas yang membuat seseorang tetap dapat dipercaya. Integritas tidak selalu terlihat dari keputusan besar, tetapi justru dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Datuk Shafie juga menekankan pentingnya kepercayaan diri sebagai orang Indonesia. Pengusaha muda Indonesia tidak boleh merasa minder berhadapan dengan pihak asing, institusi besar, atau ruang-ruang strategis. Dalam banyak situasi, pemahaman terhadap konteks lokal, kemampuan membaca hubungan, dan kedekatan dengan kebutuhan masyarakat merupakan kekuatan yang tidak mudah ditiru. Kepercayaan diri bukan berarti merasa lebih tinggi, melainkan berani hadir dengan kapasitas, posisi, dan nilai yang jelas.
Dalam konteks tema kegiatan, pesan ini menjadi sangat kuat. “Tumbuh Tanpa Takut” bukan hanya berarti berani mengambil risiko bisnis tetapi juga berarti berani membawa identitas, prinsip, dan kapasitas lokal ke dalam ruang kolaborasi yang lebih besar. Pengusaha muda harus berhenti melihat dirinya sebagai pelengkap pembangunan. Mereka harus berani menjadi aktor utama yang memahami medan, membawa solusi, dan mampu bekerja bersama negara secara bermartabat.
Datuk Shafie turut menyoroti tiga kemampuan dasar yang harus dimiliki pengusaha muda: membaca, menulis, dan menghitung. Membaca berarti memahami cerita di balik masalah. Pengusaha yang baik tidak hanya melihat hambatan, tetapi mampu membaca kebutuhan pasar, perubahan perilaku, celah layanan, dan peluang pertumbuhan. Menulis berarti mengubah ide menjadi rencana yang lebih konkret. Tanpa ditulis, ide hanya menjadi percakapan. Tanpa rencana, mimpi tidak akan bergerak menuju eksekusi. Menghitung berarti memahami angka bisnis, arus kas, margin, risiko, dan kelayakan pertumbuhan. Bisnis dapat terlihat untung di atas kertas, tetapi tetap rapuh apabila cash flow tidak sehat.
Money Trees Vol. 1: Akar menjadi ruang yang tepat untuk menempatkan pesan Datuk Shafie dalam konteks yang lebih luas. Pengusaha muda tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan cepat. Pertumbuhan tanpa akar hanya akan melahirkan bisnis yang tinggi tetapi rapuh. Akar yang kuat justru membuat pengusaha mampu bertahan ketika menghadapi tekanan regulasi, perubahan pasar, keterbatasan modal, ketidakpastian pasokan, dan dinamika kolaborasi dengan negara.
Forum ini diikuti oleh 70 pengusaha muda yang telah mendaftarkan diri dan melalui proses kurasi oleh panitia. Proses kurasi tersebut menjadi bagian dari karakter Money Trees sebagai ruang percakapan yang tidak mengejar keramaian, melainkan kualitas. Peserta yang hadir dipilih agar diskusi berlangsung relevan, mendalam, dan memberi nilai nyata bagi pengembangan kapasitas pengusaha muda.
Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Umum BPD HIPMI Jaya, Rangga Derana, serta Ketua Bidang II HIPMI Jaya, Edlin Prabawa. Dari HIPMI Jakarta Selatan, hadir Ketua Umum HIPMI Jakarta Selatan Zaki Adinda Husna selaku penyelenggara, Sekretaris Umum Deasy Widianti, Bendahara Umum Rakka Deaprilando, Ketua Bidang II Dhioa Irsandi, serta jajaran pengurus HIPMI Jakarta Selatan lainnya.
Rangkaian acara diawali dengan laporan Ketua Panitia, Ezra, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum HIPMI Jakarta Selatan, Zaki Adinda Husna, serta sambutan Ketua Umum HIPMI Jaya yang diwakili oleh Sekretaris Umum BPD HIPMI Jaya, Rangga Derana.
Sebagai forum yang bersifat tertutup dan tidak direkam, Money Trees menjaga kepercayaan narasumber agar percakapan dapat berlangsung lebih jujur dan terbuka. Namun, nilai pemikiran yang lahir dari forum ini tetap diabadikan melalui reportase tertulis terkurasi bertajuk “The Yield: From Money Trees.” Reportase ini menjadi cara untuk menjaga eksklusivitas percakapan, sekaligus memastikan sari pemikiran yang lahir tetap dapat mengalir sebagai pengetahuan bagi komunitas pengusaha muda.
Dari pandangan Datuk Shafie, pesan utama Money Trees menjadi jelas: pengusaha muda tidak boleh hanya tumbuh karena ambisi, akses, atau momentum. Mereka harus tumbuh dari akar yang benar. Akar itu bernama struggle, prinsip, trust, ketulusan, keberanian membaca masalah, dan disiplin menghitung peluang.
Masa depan pengusaha muda Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar impiannya, tetapi oleh seberapa kuat fondasi yang menopang impian itu. Tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas jaringannya, tetapi oleh seberapa dalam kepercayaan yang ia bangun. Tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia ingin naik kelas, tetapi oleh seberapa siap ia bertumbuh dengan benar.
Money Trees Vol. 1: Akar menegaskan bahwa pengusaha muda harus berani tumbuh tanpa takut. Tetapi keberanian itu harus berakar pada prinsip, kepercayaan, dan kapasitas. Sebab pohon yang kuat tidak hanya dilihat dari tingginya, melainkan dari akar yang membuatnya tetap berdiri ketika angin datang.





