POSTIMUR MAROS – Tidak semua sekolah di Kabupaten Maros menunjukkan antrean Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Sejumlah sekolah di wilayah pegunungan bahkan mengalami kekurangan calon siswa.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Maros, Andi Wandi Patabai, mengatakan, sekolah yang minim pendaftar mayoritas berada di kecamatan Cenrana, Camba, Mallawa, dan Tompobulu. “Terdapat empat sekolah dasar yang masing-masing hanya menerima satu pendaftar,” katanya, Minggu, 5 Juli 2026.
Salah satunya adalah SDN 144 Holiang di Dusun Holiang, Desa Cenrana, Kecamatan Camba. Dusun Holiang merupakan kawasan permukiman terpencil yang berjarak sekitar 67 kilometer dari pusat Kota Maros. Wilayah tersebut hanya dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua melalui jalan setapak yang cukup menantang.
Selain itu, terdapat tiga SD yang masing-masing menerima dua pendaftar, empat sekolah menerima tiga pendaftar, tiga sekolah menerima empat pendaftar, empat sekolah menerima lima pendaftar, tiga sekolah menerima enam pendaftar, dan lima sekolah menerima tujuh pendaftar.
Kondisi serupa juga terjadi di tingkat sekolah menengah pertama. Menurut Wandi, SMP Unggulan Darussalam hanya menerima tiga pendaftar, sedangkan SMPN 29 Satap Malaka menerima delapan pendaftar.
Meski jumlah peserta didik baru sangat sedikit, ia memastikan seluruh sekolah tetap akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. “Tetap berjalan, seperti sekolah-sekolah yang banyak siswanya,” ujarnya.
Namun, ia mengakui minimnya jumlah siswa akan berdampak pada besaran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima. “Semakin sedikit siswa, maka semakin sedikit pula dana BOS yang diterima sekolah,” jelasnya.
Di sisi lain, Disdikbud Maros juga mencatat ada 23 sekolah yang justru mengalami kelebihan pendaftar. Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikbud Maros, A Takdir, mengatakan sekolah-sekolah tersebut umumnya berada di kawasan padat penduduk, seperti kecamatan Moncongloe, Mandai, Tanralili, Bontoa, Marusu, dan Turikale.
Tingginya jumlah pendaftar dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang terus meningkat di wilayah tersebut.kondisi ini menjadi tantangan dalam pelaksanaan SPMB tahun ini karena daya tampung sekolah terbatas.
“Bayangkan ada sekolah yang jumlah pendaftarnya mencapai 64 orang, sementara daya tampung satu ruang kelas hanya 28 siswa,” ujarnya.





