Ketua IKA Fakultas Hukum Unibos Syamsuwardi Meninggal saat Meluncurkan Gerakan Mentor

POSTIMUR MAKASSAR – Balik layar peluncuran yang dijadwalkan menjadi tonggak bersejarah bagi Fakultas Hukum Universitas Bosowa (Unibos), suasana berubah menjadi duka mendalam pada Selasa, 5 Mei 2026, ketika Syamsuwardi, SH, Ketua Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Hukum, menghembuskan napas terakhirnya tepat di podium.

Momen yang Berubah Menjadi Duka

Acara “Peluncuran Gerakan Mentor Alumni (GEMA) Pro‑Hukum” dimulai dengan antusiasme yang menggelora. Ratusan mahasiswa, alumni, dan tamu undangan mengisi kursi Balai Sidang Unibos, menantikan perkataan inspiratif dari tokoh yang selama ini menjadi panutan: Syamsuwardi, SH.

Namun, seiring dia maju ke podium untuk membuka sesi sambutan, sorakan penonton berangsur menurun menjadi hening. Setelah menyampaikan beberapa kalimat pembuka, Syamsuardi menegaskan sebuah peringatan keras yang menjadi inti pesan terakhiri:

“Jangan jadi advokat perampok. Pandai‑pandai memilih mentor. Kalau mentormu perampok, kamu akan jadi perampok.”

Kata‑kata itu belum selesai mengalir ketika wajahnya memucat, langkahnya tersendat, dan tubuhnya terhuyung. Dia terjatuh ke panggung, menyentak setiap hati yang berada di ruangan itu. Seketika, para hadirin berlarian menuju panggung, tetapi dokter yang dipanggil tak dapat menghidupkan kembali sang pembicara.

Pengakuan Dari Saksi Mata

Kabar duka ini pertama kali dikonfirmasi oleh Arifain Makkulau, SH., MH., yang hadir sebagai calon mentor resmi pada acara tersebut. Dalam sebuah pesan singkat yang kemudian diteruskan ke media Unibos, Arifain menuliskan:

“Syamsuwardi meninggal dunia sesaat setelah memberikan pesan‑pesan terakhir yang sangat menyentuh bagi para calon praktisi hukum. Kami semua dalam shock, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.”

Arifain menambah bahwa tim medis yang datang ke lokasi sudah berusaha maksimal, namun syarat waktu dan kondisi kesehatan sang Ketua IKA tidak memungkinkan untuk diselamatkan.

Pesan Moral yang Tersisa

Sebelum jatuh pingsan, Syamsuwardi menegaskan pentingnya integritas dalam profesi hukum. Ia memperingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam praktik-praktik curang, serta menekankan bahwa pemilihan mentor bukan sekadar mencari nama besar, melainkan menilai etika dan komitmen sang mentor.

“Hukum bukan sekadar buku, melainkan jiwa keadilan. Jika kamu mencontoh orang yang tidak menghormati keadilan, maka kamu sendiri akan menodai profesi.”

Kata‑kata itu, meski terpotong jauh sebelum selesai, kini menjadi warisan pekerti bagi para mahasiswa yang masih terkapar di kursi mereka, masih bergelayut dalam kebingungan antara rasa bersyukur atas pelajaran terakhir dan kepedihan kehilangan.

Sosok Tokoh Sentral di Dunia Hukum Indonesia Timur

Kepergian Syamsuwardi bukan sekadar kehilangan satu figur akademik. Selama lebih dua dekade, ia menapaki karier yang menggabungkan pendidikan, advokasi, dan pengorganisasian profesional:

Jabatan Keterangan
-Ketua IKA Fakultas Hukum Unibos Memimpin jaringan alumni, menjadi jembatan antara mahasiswa, alumni, dan dunia kerja.
-Ketua DPC PERADI Gowa Menggerakkan praktik advokasi yang beretika di wilayah Gowa.
-Koordinator Wilayah (Korwil) DPN PERADI Wilayah Timur Mengawasi standar profesi advokat di kawasan Indonesia Timur.
-Penggagas DPC PERADI Mamuju Berperan penting dalam pembentukan organisasi advokat di Mamuju.

Rekan-rekannya menyebutnya “bapak mentor” yang selalu mengedepankan nilai kejujuran dan keberanian menyuarakan kebenaran, bahkan saat menghadapi tekanan politik atau sosial.

Acara yang Terhenti

Jadwal semula mencakup tiga agenda utama:

-Peluncuran Gerakan Mentor Alumni (GEMA) Pro‑Hukum – menandai komitmen institusi dalam menghubungkan mahasiswa dengan alumni berpengalaman.
-Perkenalan 20 Mentor – yang akan membimbing generasi hukum muda selama tiga tahun ke depan.
-Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) – antara Unibos, PERADI, dan organisasi lain untuk memperkuat kolaborasi.

Kehadiran Rektor Unibos, para Wakil Rektor, Dekan Fakultas Hukum, serta Guru Besar Prof. Dr. Ruslan Renggong, SH., MH., seharusnya menambah gravitas acara. Namun, kepergian Syamsuardi membuat seluruh civitas akademika terdiam. Rektor Unibos, Dr. H. Yusuf Hidayat, SH., M.H., mengumumkan bahwa seluruh rangkaian acara dibatalkan dan akan dijadwalkan kembali pada waktu yang lebih tepat.

Warisan yang Tetap Hidup

Meskipun tubuhnya telah tiada, semangat dan nilai yang dibawa Syamsuardi tetap mengalir dalam setiap helaan napas fakultas hukum Unibos. Mahasiswa yang dulu duduk di barisan pertama kini menatap layar laptop, menuliskan catatan tentang pentingnya integritas, sambil berdoa agar pesan sang almarhum tidak hanya menjadi kenangan singkat, melainkan pijakan moral yang kuat.

Sebagai penghormatan, Fakultas Hukum Unibos berencana menyelenggarakan Seminar Integritas Hukum pada akhir pekan depan, dengan tema “Mentor yang Membimbing, Bukan Menjerumuskan.” Acara ini nantinya akan menjadi wadah bagi seluruh civitas akademika untuk merenungkan kembali peran mentor dalam membentuk karakter seorang advokat.

Kata Penutup

Tragedi yang menimpa Syamsuwardi, SH, mengingatkan kita bahwa di balik podium megah dan sambutan berapi‑api, manusia tetap rapuh. Namun, kata‑kata terakhirnya—“Jangan jadi advokat perampok”—menjadi batu landasan yang harus dipegang kuat oleh setiap generasi hukum yang akan datang. Semoga semangat keadilan yang selalu dibela oleh almarhum terus menginspirasi, menuntun, dan melindungi integritas profesi hukum di seluruh Indonesia, khususnya di kawasan timur yang kini kehilangan salah satu penopangnya.

Selamat jalan, Pak Syamsuwardi. Warisanmu akan terus berbisik dalam ruang sidang, mengingatkan kami untuk selalu memilih jalur keadilan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *