Dosen UTS Melaksanakan PkM Di Desa Bontomarannu

POSTIMUR SULSEL – Pemanfaatan potensi lokal melalui sentuhan inovasi teknologi kembali hadir melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Teknologi Sulawesi Makassar.

Mengusung tema “Kelompok Industri Kreatif Melalui Inovasi Kristalisator Nira Lontar Berbasis Teknologi Tepat Guna Menuju Desa Bontomarannu Sebagai Sentra Gula Semut,” program ini menjadi salah satu upaya nyata dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal masyarakat desa.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17 mei 2026 di Desa Bontomarannu dan desa Popo oleh tim dosen dari Universitas Teknologi Sulawesi (UTS) Makassar yang terdiri atas Mariaulfa Mustam, S.T., M.T (Kimia), Nurfika Ramdani, S.Si., M.Sc (Kimia) dan Riska Dewi, S.E., M.E (Manajemen) dengan mitra kegiatan Kelompok Industri Kreatif Marannu Mart. Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

Desa Bontomarannu memiliki potensi pohon lontar yang cukup melimpah. Selama ini, nira lontar yang dihasilkan hanya difermentasi menjadi minuman tuak dan belum diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah. Hal menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis nira lontar.

Melalui program PkM ini, tim pelaksana menghadirkan inovasi mesin kristalisator nira lontar berbasis teknologi tepat guna sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi gula semut. Teknologi tersebut dirancang agar mudah digunakan oleh masyarakat serta mampu mendukung proses produksi yang lebih cepat, higienis, dan berkualitas.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai potensi ekonomi gula semut sebagai produk unggulan desa. Selanjutnya, anggota Kelompok Industri Kreatif Marannu Mart mendapatkan pelatihan dan pendampingan terkait proses produksi gula semut, mulai dari penyaringan nira, penggunaan mesin kristalisator, teknik pencacahan, teknik pengeringan, pengayakan, hingga pengemasan produk yang menarik dan siap dipasarkan.

Tidak hanya fokus pada aspek teknologi, tim PkM juga memberikan edukasi mengenai manajemen usaha, strategi pemasaran, dan pentingnya menjaga standar mutu produk. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu memproduksi gula semut dalam jumlah lebih besar, tetapi juga memiliki kesiapan untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Penggunaan mesin kristalisator memberikan dampak positif terhadap proses produksi. Gula semut yang dihasilkan memiliki tekstur lebih halus, warna lebih seragam, serta kualitas yang lebih stabil dibandingkan proses pengolahan secara konvensional. Selain itu, kapasitas produksi masyarakat juga meningkat sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas.

Bagi masyarakat Desa Bontomarannu, program ini bukan sekadar pelatihan teknologi, tetapi juga menjadi langkah awal menuju pengembangan industri kreatif berbasis potensi lokal. Kehadiran gula semut sebagai produk unggulan desa diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat identitas ekonomi lokal daerah.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan kelompok masyarakat dalam kegiatan PkM ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sederhana dapat memberikan dampak besar bagi pemberdayaan masyarakat desa. Dengan semangat kreativitas dan kemandirian, Desa Bontomarannu kini mulai menata langkah menuju sentra gula semut berbasis nira lontar yang berdaya saing dan bernilai ekonomi tinggi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *