POSTIMUR MAROS – Taman Kota Maros, pada hari Rabu, 22 April 2026, bukan hanya menjadi saksi bisu hiruk-pikuk keseharian, melainkan sebuah panggung penuh warna dan aroma. Sebanyak 50 tim, perwakilan dari 14 kecamatan di Kabupaten Maros, berkumpul dengan semangat membara dalam Lomba Memasak yang digelar oleh TP-PKK Maros. Acara ini bukan sekadar kompetisi kuliner, melainkan sebuah perayaan Hari Kartini ke-147 yang sarat makna, memancarkan esensi emansipasi dan kreativitas perempuan Indonesia masa kini.
Sejak mentari pagi menyapa, suasana telah begitu meriah. Yel-yel khas dari setiap kecamatan menggelegar, menambah semarak dan persaingan sehat di antara para peserta. Gemuruh tepuk tangan dan tawa riang menjadi simfoni latar yang sempurna bagi para Kartini modern yang sibuk di dapur terbuka. Tak sedikit peserta yang tampil anggun dalam balutan kebaya tradisional, mengingatkan kita pada sosok Kartini yang tak lekang oleh waktu, namun dengan semangat yang telah berevolusi. Busana yang dikenakan bukan hanya sekadar penutup tubuh, melainkan simbol keanggunan yang bersanding harmonis dengan ketangkasan di dapur.
Ibu Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, Ketua TP-PKK Kabupaten Maros, dengan bangga mengungkapkan esensi di balik kegiatan ini. “Ini bukan hanya lomba memasak, tetapi ajang mempertemukan perempuan dari berbagai tingkatan – dari kecamatan, desa, kelurahan, hingga organisasi perempuan – untuk beradu kreativitas,” ujarnya. Lebih dari itu, beliau menekankan bahwa kegiatan ini menjadi wadah berharga bagi perempuan untuk menyalurkan bakat kuliner mereka, sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan antar kader serta organisasi perempuan di Maros.
Kolaborasi apik antara TP-PKK Kabupaten Maros dengan Finna Food memastikan seluruh kebutuhan peserta terpenuhi. Sejak bahan utama ayam yang segar hingga aneka pelengkap dan peralatan masak, semuanya telah disiapkan oleh Finna Food. “Semua bahan dari Finna. Jadi peserta tinggal datang dan berkreasi,” jelas Ulfiah, menyoroti kemudahan yang diberikan agar para peserta dapat sepenuhnya fokus pada inovasi hidangan mereka.
Di bawah pengawasan dewan juri dari TP-PKK Kabupaten Maros dan Finna Food, setiap tim diberikan waktu satu jam untuk menyajikan hidangan ayam terbaik. Penilaian tak hanya sebatas cita rasa yang menggugah selera, namun juga tampilan sajian yang memikat, menggambarkan seni dan estetika dalam sebuah piring.
Vivi, sapaan akrab Ulfiah, menyoroti makna Hari Kartini yang semakin relevan di era modern. Jika dahulu perjuangan Kartini berfokus pada akses pendidikan, kini perempuan telah melangkah jauh, mampu berdaya dan berkontribusi di berbagai sektor, termasuk dunia usaha kuliner. “Sekarang perempuan sudah bisa berdaya, termasuk dalam dunia usaha kuliner,” tambahnya, menegaskan bahwa semangat Kartini adalah tentang keberanian untuk berkarya dan mandiri. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong pemberdayaan perempuan melalui 10 Program Pokok PKK yang menjangkau hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
Salah satu peserta, Ibu Bahria, dengan bersemangat menjelaskan kreasi timnya. “Kami buat chicken steak dengan kreasi sendiri,” tuturnya, tampak yakin akan hidangan yang disajikan. “Semoga rasanya enak dan tampilannya juga menarik.” Ekspresi optimis tersebut mencerminkan semangat juang dan kepercayaan diri yang terpancar dari seluruh kontestan.
Ketika alarm waktu berbunyi, aroma masakan lezat menyelimuti seluruh area Taman Kota, meninggalkan jejak kenangan akan hiruk-pikuk kreativitas. Seluruh peserta, tanpa terkecuali, mendapatkan paket apresiasi dari Finna Food sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka. Sementara para pemenang yang berhasil memukau juri akan memperoleh hadiah khusus dari pihak sponsor.
Lomba memasak ini lebih dari sekadar perlombaan; ini adalah sebuah manifestasi bahwa semangat Kartini terus hidup, bersemi dalam setiap bumbu yang diracik, setiap hidangan yang disajikan, dan setiap senyuman yang terukir. Di tengah wajan berasap dan aroma rempah, perempuan Maros merayakan identitas mereka—sebagai ibu, istri, pemimpin, dan seniman kuliner—yang tak hanya mampu mengolah bahan dasar menjadi hidangan lezat, tetapi juga mengolah tantangan menjadi peluang, serta mimpi menjadi kenyataan. Sebuah Hari Kartini yang dirayakan bukan hanya dengan mengenang, tetapi dengan berkarya dan berdaya.





