Dinilai Tak Serius Atasi Krisis Air, Anggota DPRD Dapil 2 Rame Dihujat Warga

Pos Timur, MAROS – Masyarakat Kecamatan Bontoa meluapkan kekesalannya melalui grup WhatsApp ‘Sahabat Pemuda Bontoa’ yang menilai kinerja Anggota DPRD Maros Daerah Pemilihan Bontoa-Lau mengecewakan. Sejumlah aktivis dan warga rame-rame menyindir peran legislatif yang mewakili suara masyarakat Bontoa di DPRD lewat unggahan komentar grup, pada Rabu (29/7/2026).

Para aktivis di grup tersebut kompak menyoroti masalah krisis air bersih yang selama ini dialami warga Kecamatan Bontoa. Kinerja DPRD pun yang dulu mengais suara di tanah kering (Bontoa) tak luput dari sorotan tajam.

Sebelumnya, Legislator NasDem Akbar Rusdi beralasan penanganan krisis air bersih di Bontoa terhambat disebabkan oleh kebijakan efisiensi dari pusat, sehingga berdampak pada minimnya anggaran untuk merealisasikan solusi air bersih bagi warga Bontoa.

Pernyataan Akbar itu sontak memancing reaksi publik di grup WhatsApp Bontoa dan mendesak semua Anggota DPRD Maros dari Dapil 2 agar menunjukkan hasil kerjanya dari janji politik yang dahulu begitu manis disampaikan ke publik akan memperjuangkan aspirasi rakyat.

Berikut ini komentar negatif kami kutip yang menyorot kinerja DPRD Maros Dapil 2, mereka terdiri lima orang dari partai politik yang berbeda, yakni Yusuf Damang Gerindra, Ikram Rahim PAN, Rahmat Hidayat PKS, Akbar Rusdi NasDem, dan Bambang Jayanto Golkar.

“Saat ini ada efisiensi anggaran tapi pemerintah kabupaten maros masih rutin setiap tahun hibahkan anggaran ke lembaga vertical seperti polres dan kejaksaan. Seandainya anggaran ini fokus ke bontoa, lebih bisa dinikmati masyarakat. Booster salah satu tahapan penyelesaian air bersih bukan solusi utama, masih ada tahapan2 yang diperbaiki. Kajian sudah ada di PDAM, sebaiknya pak dewan jalan2 ke kantor PDAM,” tulis @Arung.

Misbahuddin Nur atau BoodonkBebu pun langsung menyela komentar @Arung. Dia menyerukan agar semua pihak harus bersatu, utamanya wakil rakyat yang mewakili Bontoa untuk bersama-sama menyelesaikan masalah kekeringan ini dengan powerful. “Hanya saja memang sangat membutuhkan kerja-kerja dan dorongan bersama keseluruhan masyarakat khususnya Bontoa untuk menggedor upaya penyelesaian air bersih ini. Apalagi jika Saudara” kita yang duduk sebagai keterwakilan kita menyatukan kekuatan untk mengawal dan mendorong dobrakannya. Sekali lagi, KAJIAN ATAS PERJALANAN DAN PERJUANGAN YANG SUDAH SANGAT LAMA SUDAH ADA DIMEJA PDAM,” ujarnya.

@Ancha malah menyentil peran pemerintah yang hanya bagi-bagi air bersih solusinya pada saat musim kemarau tiba. “Pembagian air bersih ji solusinya pemerintah Deng untuk Bontoa”.

Sementara itu, @Muh Rawindra Manyingari meluruskan pemahaman Akbar Rusdi. “Sedikit menambah wawasan Pak Dewan. Persoalan penambahan debit air di Bantimurung itu bukan upgrading pipanisasi tetapi upgrading IPA (Instalasi Pengelohan Air), seperti pernyataanta diakhir berita. Kalau debit air sudah bertambah dgn upgrading IPA lalu upgrading air baku baru setelah itu upgrading Pipanisasi untuk proses transmisi dan distribusi”.

“Kita Ini sudah bergejolak, sangat sangat bergejolak. Bukan cuman hari ini saja toh ndi, bahkan bukan cuman bersuara saat persilangan musim hujan ke kemarau. Bahkan disetiap tahunnya, bertahun-tahun yang lalu.
Atas nama masyrakt. Tapi lema ini barang jika tak didukung di semua element masyarakat, dan keterwakilan kita. 😁😁😁,” tulis Boddonk.

@Muh Rawindra Manyingari.. Gejolak di masyarakat itu dari dlu Pak Jendral. Seharusnya gejolak terwakilkan oleh para wakil. Jgn sekedar muncul angkat bicara ketika momentum pembahasannya. Apa salahnya kalau kalian kalian para Anggota DPRD yg memulai pembicaraan gejolak ini. Ribut pi seng di akar rumput baru angkat bicara itu pun gagal paham masalah.

Berbeda dengan akun @astagfirullah yang malah menyebut masalah air di Bontoa diibaratkan film Drakor yang alur ceritanya sangat panjang. “Kamma tong ji ini drakor cerita nya krisi air k di Bontoa🤣 sekarang masuk mi eps 30 dari 50 eps k hebahebakkanna, masuk musim hujan🌧️🌧️🌧️ THE END 😁🙏”.

“Tujuah mii lembarang kutepo, 3 sapeda ku pake goyang gandeng je’ne punna antamakiii natabakii barubu motere natabakii timoro😅 Tena garobah bekas ta Daeng Ical,” tulis @Am.Pholee Dg.Jiwa.

Sumber kami lainnya menyebut keberanian warga Bontoa untuk mengkritik kebijakan dan tanggung jawab wakilnya di DPRD Maros di ruang publik merupakan efek domino akibat serangkaian dampak buruk yang dihadapi masyarakat Bontoa karena kekeringan.

Masalah krisis air bersih adalah kasus lama yang rakyat sendiri tidak tahu kapan ujungnya, isu ini bagaikan ‘bom waktu’ yang kapan saja bisa meledak di Bontoa, tergantung bagaimana para elit dan pemegang kebijakan menyikapinya saat ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *