POSTIMUR MAROS – Di tengah gemuruh persiapan, Kabupaten Maros mengumumkan ambisinya yang tak lagi sekadar menjadi tuan rumah — melainkan menargetkan puncak podium dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke‑34 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Sebuah “Dream Team” Dibentuk di Hotel Afiat
Pukul 09.00 WIB, Bupati Maros, Chaidir Syam, membuka secara resmi Training Center (TC) yang digelar di Hotel Afiat, Makassar. 56 sosok—mulai dari pembawa acara, tim IT, hingga pelatih—berkumpul dalam dua hari intensif untuk menyelaraskan strategi, teknis, dan semangat.
“Kita ingin meraih dua keberhasilan sekaligus, yakni sukses pelaksanaan dan sukses prestasi. Target kita tentu juara umum,” ujar Chaidir dengan mata bersinar, menegaskan kedudukan Maros tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga kontestan utama.
Sesi latihan meliputi:
Penguasaan Tajwid & Makharij – dibimbing oleh guru Qur’an berpengalaman dari Universitas Hasanuddin.
Simulasi Acara Live – melibatkan MC‑kafilah yang diuji kemampuan berbicara, mengatur tempo, dan menjaga “energy” penonton.
Workshop Teknologi – tim IT menyiapkan sistem streaming, timing lampu panggung, dan backup audio‑visual untuk menghindari hambatan teknis.
Fokus Tanpa Beban, Kesehatan Dijaga
Meski menargetkan juara umum, Chaidir menegaskan pentingnya keseimbangan mental bagi para peserta.
“Saya percaya kafilah Maros mampu memberikan penampilan terbaik. Masuk tiga besar sudah sangat baik, apalagi jika bisa juara umum. Yang penting fokus bertanding, jaga kesehatan, dan tunjukkan bahwa kita tuan rumah yang baik,” pesannya, menolak segala tekanan yang berlebihan.
Ia mengingatkan bahwa kesehatan menjadi prioritas utama; agenda istirahat teratur, cek kesehatan, dan nutrisi seimbang telah dimasukkan ke dalam jadwal harian kafilah.
Dukungan Penuh Pemerintah Kabupaten
Di sela‑sela sesi pelatihan, Wakil Bupati Maros sekaligus Ketua LPTQ, Muetazim Mansyur, menambahkan nuansa historis pada momen ini.
“Setelah tiga dekade, Maros kembali dipercaya menjadi tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Ini adalah momentum besar. Dengan dukungan Kemenag dan doa masyarakat, Maros kembali dipercaya. Semoga pelaksanaannya berjalan lancar dan penuh makna,” ujar Muetazim, menyoroti keberhasilan Maros memperoleh kepercayaan kembali setelah 30 tahun.
Ia pun menegaskan peran pelatih dan pendamping:
“Biarkan mereka tampil maksimal sesuai kemampuan terbaiknya, tanpa beban berlebihan.”
Kata Muetazim menegaskan bahwa 56 orang yang mengisi seluruh cabang lomba—tilawah, hafalan, tafsir, dan ilmu Qur’an—menjadi kekuatan kolektif yang memberi peluang realistis bagi Maros untuk menancapkan bendera juara umum.
Mengukir Sejarah, Menyulam Kebanggaan
Jika dilihat dari data historis, Kabupaten Maros pernah menjadi tuan rumah MTQ pada awal 1990‑an, namun belum pernah menggenggam gelar juara umum. Tahun ini, dengan infrastruktur yang telah ditingkatkan (panggung utama berkapasitas 1.500 penonton, sistem audio‑visual berstandar internasional, dan jaringan internet fiber‑optic), serta semangat warga yang memuncak, harapan menjadi nyata.
“Kami ingin menuliskan satu bab baru dalam cerita Maros — bukan sekadar menjadi tuan rumah, tetapi menjadi contoh keunggulan budaya Qur’an di Sulawesi Selatan,” pungkas Chaidir, menutup sesi pembukaan dengan sorak sorai para peserta yang kini lebih bersemangat menapak jejak “Jalan Kemenangan”.
Kesan Akhir
Training Center di Hotel Afiat tidak hanya menjadi arena teknik; ia bertransformasi menjadi laboratorium motivasi. Dengan dukungan pemerintah, Kementerian Agama, serta doa seribu hati warga Maros, calon juara umum ini bersiap menapaki panggung MTQ ke‑34 — bukan sekadar menghafal ayat, melainkan menulis kembali sejarah kebanggaan Kabupaten Maros.
Jika semua berjalan sesuai rencana, sorotan lampu panggung pada hari pelaksanaan akan menyoroti bukan hanya Qur’an yang ditilawah, melainkan juga sinar harapan yang mengalir dari Maros ke seluruh Sulawesi Selatan.





