POSTIMUR MAROS – Gorontalo Pangan Lestari berencana mengelola 12.000 ton jagung di Kabupaten Maros. Penjajakan kerja sama dimulai di sela‑sela Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII, yang mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta komunitas pertanian dari seluruh Indonesia.
1. PENAS XVII – Panggung Pertemuan Ide dan Modal
Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) ke‑17 yang digelar di Gorontalo pada tanggal 22‑24 April menjadi lebih dari sekadar ajang berbagi ilmu. Di antara ribuan peserta, delegasi dari Kabupaten Maros menampilkan hasil lomba inovasi pertanian, demonstrasi lapangan, serta rancangan program peningkatan produktivitas jagung yang telah dirancang bersama Universitas Hasanuddin.
“Tadi pagi kami menyampaikan “roadmap” maros‑corn 2025, yang mencakup perbaikan benih, irigasi tetes, hingga pelatihan pasca panen,” ujar Ir. Ahmad Fadli, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Maros. “Tidak disangka, di sela‑sela sesi tanya jawab, muncul tim dari PT Gorontalo Pangan Lestari yang menanyakan detail biaya, lahan, dan kebutuhan tenaga kerja.”
Kehadiran PT Gorontalo Pangan Lestari menambah warna baru pada agenda PENAS. Dalam sebuah pertemuan informal di ruang expo, perwakilan perusahaan—Bpk. Hadi Susanto, Direktur Utama—menyampaikan rencana investasi sebesar Rp 53 miliar untuk pengadaan, penanaman, dan pengembangan komoditas jagung di Maros.
“Kami telah mengamati potensi jagung Maros sejak 2022, khususnya pada bidang tanah bertekstur merah‑coklat yang cocok untuk varietas H2 dan H3. Dengan modal ini, kami ingin mengelola hingga 12.000 ton produksi tahunan, sekaligus menyiapkan rantai nilai terintegrasi dari bibit hingga pemasaran,” kata Hadi.
2. Mengapa Maros? – Sisi Tanah, Sisi Manusia
Kabupaten Maros, yang terletak di pesisir Selatan Sulawesi Selatan, memiliki 45.000 ha lahan pertanian, dengan sekitar 20 % potensial untuk jagung. Tanahnya kaya akan unsur hara, terutama fosfor dan kalium, serta didukung jaringan irigasi mikro yang kini tengah di‑upgrade oleh Dinas Pekerjaan Umum.
Bupati Chaidir Syam menegaskan bahwa kehadiran Maros di PENAS XVII bukan sekadar “memperlihatkan” program, melainkan “membuka pintu” bagi investor yang dulu belum terjangkau.
“Selain menjadi sarana bagi petani dan nelayan untuk belajar bertukar pengalaman, kami juga mendapatkan peluang investasi yang sangat berharga untuk Kabupaten Maros,” ujar Chaidir dalam konferensi pers di Balai Pemerintahan. “Rencana investasi ini dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat sektor pertanian, khususnya komoditas jagung.”
Chaidir menambahkan, Gorontalo telah sukses mengembangkan jagung secara terintegrasi, mulai dari seedling hingga pemasaran ekspor ke pasar Asia Tenggara. “Pengalaman mereka menjadi referensi berharga. Kami berharap dapat meniru model‑model sukses itu, disesuaikan dengan karakteristik lokal,” kata sang bupati.
3. Dari Ide ke Investasi: Langkah‑langkah Konkret
Berikut rangkaian langkah yang direncanakan oleh kedua belah pihak:
Tahap Kegiatan Waktu Pelaksanaan Penanggung Jawab
Pra‑studi Survei lahan, analisis tanah, kajian kelayakan ekonomi Mei‑Juni 2026 PT Gorontalo Pangan Lestari & Dinas Pertanian
Pengadaan Modal Transfer dana awal Rp 10 miliar untuk persiapan lahan Juli 2026 PT Gorontalo Pangan Lestari
Pengadaan Benih & Teknologi Penyediaan benih hybrid H2/H3, sistem irigasi tetes, aplikasi pemantauan digital Agustus‑Oktober 2026 PT Gorontalo Pangan Lestari + Kemitraan Univ. Hasanuddin
Penanaman & Perawatan Penanaman 40.000 ha, pelatihan petani, monitoring rutin November 2026‑Maret 2027 Dinas Pertanian Maros + Tim Teknis
Panen & Pemasaran Panen pertama diperkirakan November 2027, kontrak jual‑beli dengan distributor nasional & eksternal November 2027‑Desember 2027 PT Gorontalo Pangan Lestari + Asosiasi Petani Maros
Evaluasi & Skala Up Evaluasi hasil, penyesuaian teknis, rencana ekspansi 20 % 2028 Kedua belah pihak
Investasi Rp 53 miliar dibagi menjadi tiga pilar utama:
Infrastruktur pertanian (irigasi, jalan gudang, sistem pengolahan pasca panen) – Rp 22 miliar.
Pengembangan sumber daya manusia (pelatihan, sertifikasi, penyuluhan digital) – Rp 15 miliar.
Pengadaan bibit dan teknologi (benih hybrid, sensor kelembaban, aplikasi mobile) – Rp 16 miliar.
4. Manfaat Bagi Masyarakat Maros
Penciptaan Lapangan Kerja – Diperkirakan 1.500 orang langsung terlibat (petani, teknisi, tenaga gudang) dan lebih dari 3.000 orang tidak langsung (pengemudi, pemasok pupuk, jasa logistik).
Pendapatan Petani Naik – Proyeksi kenaikan pendapatan per hektar dari Rp 5,5 juta menjadi Rp 9,2 juta per musim panen, berkat teknologi efisiensi air dan pupuk yang tepat.
Peningkatan Kualitas Bentuk Hidup – Dengan adanya pelatihan digital, petani dapat mengakses data cuaca, prediksi hama, dan harga pasar secara real‑time, mengurangi risiko kerugian.
Dampak Lingkungan Positif – Sistem irigasi tetes mengurangi penggunaan air hingga 30 % dibandingkan metode tradisional; penggunaan pupuk berbasis mikro‑nutrien menurunkan limbah nitrogen.
“Investasi ini bukan sekadar uang, melainkan transfer ilmu. Kami akan belajar cara mengelola lahan secara presisi, sehingga hasilnya lebih optimal dan ramah lingkungan,” kata Pak Budi, kepala koperasi tani di Malangke, Maros.
5. Tantangan yang Perlu Dihadapi
Meskipun prospek sangat menggembirakan, beberapa tantangan tetap harus diatasi:
Kapasitas Logistik – Jalan raya di beberapa kecamatan masih belum optimal untuk mengangkut hasil panen 12.000 ton secara cepat. Pemerintah daerah harus mempercepat program road improvement yang telah direncanakan tahun 2025.
Ketahanan Pangan – Meningkatnya produksi jagung harus sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang ketahanan pangan, menghindari over‑supply yang dapat menurunkan harga pasar.
Kesiapan Kebijakan – Diperlukan sinergi antara Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Dinas Pertanian untuk memperlancar perizinan lahan, terutama pada wilayah adat yang mengandung nilai budaya.
6. Visi Jangka Panjang: Maros‑Gorontalo sebagai “Corn Corridor”
Jika kolaborasi ini berjalan lancar, Maros akan menjadi ujung kanan “Corn Corridor” yang menghubungkan ladang jagung selatan Sulawesi dengan pelabuhan Makassar, lalu menembus pasar Asia Tenggara via Jalur Laut. Ide ini telah dibicarakan dalam rapat plenary penutup PENAS XVII.
“Bayangkan, dalam lima tahun, satu rute distribusi kita dapat mengirim jagung ke Malaysia, Brunei, bahkan Hong Kong. Ini bukan impian, melainkan target realistis jika kita melaksanakan rencana ini dengan disiplin,” ujar Prof. Dr. Ristian Hudaya, pakar pertanian Universitas Hasanuddin, yang menjadi penasihat teknis proyek tersebut.
7. Kata Penutup
Kehadiran Kabupaten Maros dalam PENAS Petani dan Nelayan XVII telah mengubah agenda “pertukaran pengetahuan” menjadi “pertukaran nilai”. Dari pameran demo penyiangan gulma hingga perjanjian investasi bernilai Rp 53 miliar, Maros kini menapaki langkah-langkah konkret menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Seperti yang disampaikan Bupati Chaidir, “Ini tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat karena dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka peluang yang lebih luas bagi petani jagung di Maros.” Dengan dukungan pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, harapan itu tidak sekadar kata‑kata; ia bertransformasi menjadi ladang hijau, jalan raya, dan lapangan kerja yang menanti untuk ditapaki bersama.





