Minasa Upa Merajut Asa: Rembug Stunting 2026, Tonggak Perjuangan Generasi Emas

POSTIMUR MAROS – Udara pagi, Tepat Pukul 09.00, di Aula Kantor Desa Minasa Upa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar pertemuan rutin, namun ada aura keseriusan sekaligus harapan yang membungkus setiap sudut ruangan. Pada Selasa yang bersejarah ini, Pemerintah Desa Minasa Upa melaksanakan Rembug Stunting Pencegahan dan Penanganan Stunting Tahun Anggaran 2026, sebuah ikhtiar kolektif untuk merajut masa depan yang lebih sehat bagi anak-anak desa.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran penting yang berkomitmen penuh terhadap kesehatan masyarakat. Tampak hadir, Camat Bontoa, Bapak Maudu, S.Hut., yang membuka acara dengan nada penuh keseriusan akan tantangan stunting. Turut mendampingi, Bapak Rusman, S.Sos., Kepala Desa Minasa Upa, yang menjadi motor penggerak inisiatif ini. Tak ketinggalan, Bapak Sainuddin, Ketua BPD Desa Minasa Upa, Bhabinkamtibmas, bersama Ibu Ketua TP.PKK Desa Minasa Upa, yang menjadi garda terdepan dalam pemberdayaan keluarga.

Kehadiran para ahli dan praktisi lapangan semakin memperkuat bobot diskusi. Pendamping Desa turut hadir untuk memastikan program berjalan sesuai koridor, sementara Bidan Desa memberikan perspektif medis langsung dari lapangan. Penyuluh BKKBN berbagi data dan strategi intervensi yang terbukti efektif, dan yang tak kalah penting, para Kader Posyandu – para pahlawan tanpa tanda jasa di garis depan kesehatan masyarakat – turut serta dengan semangat membara.

Kepala Desa Rusmans S.Sos, dalam sambutannya, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Stunting bukanlah masalah individual, melainkan tantangan bersama yang membutuhkan sinergi dari seluruh elemen desa,” ujarnya. “Rembug hari ini adalah fondasi kita untuk merumuskan langkah-langkah konkret, mengalokasikan anggaran secara efektif di tahun 2026, demi menciptakan generasi Minasa Upa yang cerdas, sehat, dan bebas stunting.”

Diskusi berjalan hangat namun fokus. Meja-meja dipenuhi data pertumbuhan balita, peta sebaran kasus, hingga analisis penyebab. Setiap masukan dari Bidan Desa mengenai kondisi gizi ibu hamil dan anak, dari Penyuluh BKKBN tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan, hingga pengalaman praktis dari para Kader Posyandu dalam mendampingi keluarga, menjadi bahan pertimbangan vital dalam penyusunan rencana aksi 2026.

Camat Bontoa, Bapak Maudu, S.Hut., mengapresiasi tinggi inisiatif Desa Minasa Upa. “Komitmen kuat seperti inilah yang kita butuhkan. Pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia kita. Anggaran 2026 yang akan kita susun hari ini harus benar-benar menyentuh akar masalah dan memberikan dampak nyata,” tegasnya.

Kesepahaman tercapai dalam beberapa poin kunci, di antaranya peningkatan kapasitas kader, pengadaan alat ukur tumbuh kembang yang akurat, program pemberian makanan tambahan yang terencana, hingga edukasi masif tentang gizi seimbang dan sanitasi lingkungan. Semua dirancang untuk masuk dalam perencanaan anggaran Desa Minasa Upa Tahun 2026.

Rembug Stunting di Minasa Upa bukan sekadar catatan di atas kertas, melainkan sebuah deklarasi nyata bahwa desa ini tak akan menyerah pada bayang-bayang stunting. Dengan semangat gotong royong dan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, Minasa Upa optimis dapat melahirkan generasi emas yang tumbuh optimal, sehat, dan siap menjadi penerus pembangunan bangsa. Langkah kecil ini adalah investasi besar bagi masa depan Minasa Upa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *