Suara dari Timur: Ketua PMII Makassar Menyambut Kedatangan Sutradara Film “Pesta Babi” di Kota Daeng

POSTIMUR MAKASSAR – Di bawah naungan langit Kota Daeng yang selalu hangat dengan diskusi intelektual, sebuah pertemuan penting tengah dipersiapkan. Benteng Rotterdam, saksi bisu sejarah panjang Sulawesi Selatan, bersiap menjadi tuan rumah bagi gelaran bergengsi Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026. Namun, tahun ini ada getaran yang berbeda. Nama Dandhy Laksono dan karya terbarunya, “Pesta Babi”, menjadi pemantik diskusi yang kian memanas.

Kehadiran Dandhy, sang sutradara dibalik film-film dokumenter yang kerap mengguncang kemapanan, disambut dengan tangan terbuka oleh elemen mahasiswa di Makassar. Adalah Arfiansyah Aris, Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Makassar, yang secara terbuka menyatakan dukungan dan antusiasmenya atas kedatangan sang sineas.

Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Peringatan

Film “Pesta Babi” bukan sekadar sinematografi biasa. Ia adalah potret getir dari jantung Papua Selatan. Film ini merekam denyut perjuangan masyarakat adat yang tengah terkepung oleh raksasa Proyek Strategis Nasional (PSN). Di balik lensa Dandhy, kita diperlihatkan bagaimana ambisi swasembada pangan dan energi berpotensi melahap 2,5 juta hektar hutan ulayat menjadi hamparan perkebunan industri yang monokrom.

Bagi PMII Makassar, isu ini bukan sekadar urusan warga Papua, melainkan urusan kemanusiaan dan keadilan ekologis yang harus disuarakan dari Makassar sebagai pintu gerbang Indonesia Timur.

Sambutan Hangat dan Ruang Dialektika

Dalam sebuah wawancara dengan media lokal, Arfiansyah Aris menegaskan bahwa kedatangan Dandhy Laksono harus dimaknai sebagai momentum untuk memperdalam literasi kritis mahasiswa terhadap kebijakan negara yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat adat.

“Tentunya kami akan sambut dengan baik. Kedatangan beliau di MIWF 2026 adalah angin segar bagi ruang-ruang dialektika di kota ini,” ujar Arfiansyah dengan nada mantap.

Tak sekadar menyambut di bandara atau kursi penonton festival, Arfiansyah mengungkapkan rencana besar organisasi yang dipimpinnya. Ia berencana membawa isu Papua dari layar film ke meja diskusi yang lebih dalam.

“Insyaallah kami juga akan mengundang beliau untuk berdiskusi terkait permasalahan yang ada di Papua, seperti apa yang kami lihat dalam dokumenter Pesta Babi. Kami ingin membedah lebih dalam, bagaimana nasib saudara-saudara kita di sana dan bagaimana posisi kita sebagai mahasiswa dalam melihat ekspansi lahan berskala masif tersebut,” tambahnya.

MIWF 2026: Panggung Perlawanan Lewat Kata dan Gambar

MIWF 2026 di Benteng Rotterdam diprediksi akan menjadi lebih dari sekadar perayaan literasi. Dengan hadirnya film-film seperti Pesta Babi, festival ini bertransformasi menjadi ruang perlawanan melalui narasi dan visual.

Kehadiran sosok seperti Dandhy Laksono yang dipertemukan dengan semangat aktivisme dari kader PMII Makassar menandakan bahwa gerakan mahasiswa di Kota Daeng tetap konsisten berada di garis depan dalam mengawal isu-isu agraria dan hak asasi manusia.

Bagi warga Makassar, perhelatan ini adalah undangan untuk kembali peduli. Bahwa di balik piring nasi dan energi yang kita nikmati, ada hutan yang sedang bertaruh nyawa di tanah Papua. Dan di Makassar, suara itu akan disambut dengan diskusi, dialektika, dan aksi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *